Inews Sampit – Ajang balap motor Motoprix Kotim menuai sorotan tajam dari masyarakat setempat. Warga menilai panitia penyelenggara Motoprix Kotim Abaikan kesepakatan yang telah mereka sepakati bersama sebelum pelaksanaan acara. Kesepakatan tersebut mengatur akses jalan agar tetap terbuka bagi fasilitas umum, termasuk klinik kesehatan dan gereja. Namun, kondisi di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.

Sejumlah warga menyampaikan kekecewaan karena panitia menutup akses jalan utama demi kepentingan penonton balap. Penutupan ini menghambat aktivitas warga yang membutuhkan layanan kesehatan serta kegiatan ibadah. Warga menilai panitia lebih mengutamakan kenyamanan penonton dibanding kebutuhan dasar masyarakat sekitar lintasan balap.
Baca Juga : Motoprix Berjalan Tak Sesuai Komitmen, Akses Jalan ke Klinik dan Gereja Dipenuhi Penonton
Sebelum acara berlangsung, warga dan panitia sempat menggelar pertemuan. Dalam pertemuan itu, panitia berjanji menjaga akses klinik dan gereja tetap terbuka selama kegiatan berlangsung. Namun, saat hari pelaksanaan, warga tidak melihat realisasi janji tersebut. Kondisi ini memicu anggapan bahwa Motoprix Kotim Abaikan komitmen yang telah disepakati bersama.
Seorang warga menyebutkan bahwa penutupan akses membuat pasien kesulitan menuju klinik. Beberapa warga lanjut usia bahkan terpaksa memutar jauh untuk mencapai fasilitas kesehatan. Situasi serupa juga terjadi pada jemaat gereja yang hendak mengikuti kegiatan ibadah. Mereka harus bernegosiasi dengan petugas demi bisa melintas.
Warga berharap panitia bertanggung jawab dan segera melakukan evaluasi. Mereka meminta penyelenggara tidak mengulangi tindakan serupa pada event berikutnya. Menurut warga, ajang olahraga seharusnya memberi dampak positif bagi daerah, bukan justru menimbulkan keresahan.
Selain itu, warga juga meminta pemerintah daerah turun tangan. Mereka ingin pemerintah memastikan setiap event besar menghormati hak masyarakat sekitar. Transparansi dan komunikasi terbuka dinilai menjadi kunci agar konflik tidak terus berulang.
Dengan mencuatnya persoalan ini, warga Kotim berharap semua pihak belajar dari kejadian tersebut. Mereka menuntut komitmen nyata, bukan sekadar janji, agar kegiatan hiburan dapat berjalan seiring dengan kepentingan sosial dan kemanusiaan.















